Esai Toleransi Beragama
Memang banyak perbedaan dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari suku, ras, agama hingga perbedaan antar kelompok. Agar kita dapat hidup berdampingan secara damai, seseorang secara alami harus bersikap toleran. Kata toleransi sendiri berasal dari kata latin “tolerare” yang berarti kesabaran dan pengendalian diri. Secara terminologis, toleransi adalah sikap saling menghormati, menghargai, mengungkapkan pendapat, pandangan, dan keyakinan antara orang-orang yang bertentangan. Menurut sarjana sastra Indonesia Welfridus Josephus Sabariya Porwarminta, toleransi adalah sikap menerima perbedaan antara orang dan diri sendiri. Rentang perbedaan sangat luas dan mencakup perbedaan pendapat, pandangan, atau keyakinan. Dari sini dapat kita simpulkan bahwa pengertian toleransi secara umum adalah suatu tindakan atau sikap manusia yang tidak menyimpang dari aturan, menghargai atau menghargai segala tindakan orang lain tanpa terkecuali.
Pada paragraf sebelumnya, kita telah membahas pentingnya toleransi. Jadi toleransi seperti apa yang biasa kita temukan dalam kehidupan sehari-hari? Mungkin kita semua berada di halaman yang sama, mulai dari toleransi agama, budaya, dan politik hingga toleransi spiritual. Tanpa disadari saya telah membuat berbagai ekspresi toleransi. Semua perbedaan ini disatukan oleh semboyan nasional Indonesia, Bhinneka Tunggal Ika. Ini tertulis di Garuda Pancasila, lambang negara kita. Ungkapan ini berasal dari bahasa Jawa Kuno dan berarti “berbeda-beda tetapi tetap satu”.
Saya mengambil kesempatan ini untuk menulis esai tentang toleransi yang biasa kita temukan dalam kehidupan sehari-hari: toleransi beragama. Keberagaman agama merupakan realitas yang tak terelakkan. Indonesia memiliki 633 suku bangsa atau 1.340 suku bangsa. Semua kelompok agama berkewajiban untuk mengakui dan menghormati agama lain tanpa membeda-bedakan agama tertentu. Toleransi antarumat beragama sendiri bertujuan untuk menciptakan suasana, kondisi dan kerjasama yang harmonis antarumat beragama. Pemerintah Indonesia mengakui enam agama. Agama-agama tersebut adalah Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Budha, dan Konghucu. Akibatnya, negara kita telah membentuk budaya yang kaya dan memiliki individualitas yang saling menghormati. Toleransi antar umat beragama dapat diwujudkan dengan cara sebagai berikut:
- Menghargai dan menghormati agama orang lain tanpa terkecuali.
- Tidak mengganggu atau mengganggu ibadah atau kegiatan keagamaan orang lain.
- Jangan memaksakan keyakinan agama Anda pada orang lain.
- Orang-orang dari agama lain tidak didiskriminasi di sekolah, tempat kerja atau komunitas.
- Melaksanakan ajarann agama yang telah dianut dengan baik dan benar.
Indonesia menawarkan kebebasan penuh kepada warganya untuk memilih agama mereka. Kebebasan memeluk agama dan menjalankan keyakinan agama diatur dalam Pasal 29 (2) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 sebagai berikut:
"Negara menjamin kebebasan semua penduduknya untuk memeluk agama mereka sendiri dan untuk menyembahnya menurut agama dan kepercayaan mereka sendiri."
Memang seluruh masyarakat Indonesia mengetahui pentingnya toleransi beragama, namun dalam praktiknya masih banyak terjadi pelanggaran toleransi beragama. Contoh beberapa kasus yang pernah terjadi di Indonesia adalah kasus Trikala. Peristiwa itu terjadi antara tahun 1702 hingga 1711 saat salat Idul Fitri di Markas Makoramir di Karbaga, Trikala, Papua. Analisis Komnas HAM menemukan bahwa kemarahan dari anggota Gereja Injil Indonesia (GIDI) memicu kerusuhan Trikala. Kejatuhan itu melukai 11 orang, menewaskan satu orang, dan membakar kios, rumah, dan tempat ibadah. Selain peristiwa Trikala, ada kasus khusus lainnya, yakni penyerangan 11 Februari 2018 di Gereja St. Lidwina oleh seorang pemuda bernama Suriyono. Suriyono melakukan serangan dengan pedang, dengan umat Katolik menyerang gereja-gereja yang dipimpin Katolik. Misa dihadiri oleh Pastor Edmund Prior SJ.
Salah satu dari sekian banyak pelanggaran toleransi yang dilakukan adalah karena kurangnya pemahaman tentang keberagaman, yang berdampak negatif sebagai berikut:
- Negara dan bangsa menurun karena pemerintah kesulitan merumuskan kebijakan.
- Adanya perpecahan bangsa yang muncul dalam kehidupan sosial akibat konflik sosial. Hal ini dapat disebabkan oleh masalah ekonomi, status sosial, ras, suku, agama dan budaya.
- Memandang masyarakat dan budaya sendiri lebih baik, yang mengarah pada sikap merendahkan terhadap budaya lain. Sikap ini menumbuhkan konflik antar kelompok.
- Menyebabkan kesalahpahaman dan masalah bagi orang-orang yang tidak toleran
- Jangan mengambil tindakan non-standar untuk mencapai tujuan tertentu.
- Jangan memaksakan kehendak Anda pada orang lain.
- Jangan khawatir tentang etnis Anda atau sikap bahwa Anda menganggap kelompok etnis Anda lebih unggul.
- Kurang peduli dengan kepentingan diri sendiri daripada kesejahteraan orang lain.
- Selalu waspada dan waspada terhadap lingkungan sekitar Anda.
Komentar
Posting Komentar